Kamis, 02 April 2020

The Tale of Ino-Gongju

Berdiri di geladak utama
wajah rupawan nan menawan
berpakaian gagah sang putra raja
berjalan selembut angin menuju haluan

Ino- gongju yang malang jatuh cinta
memohon pada Ursula
agar bisa menapak semesta
Walau harus diterpa derita

Bukankah sang Ursula sangat baik?
Dia hendak menyadarkan Ino-gongju
Tentang cinta hanyalah buaian semata
Seperti lagu pengantar tidur Poseidon

Dia, Ino tahu akhir kisah ini
Bahwa nantinya hanya kan menjadi buih lautan
Menghilang diudara tanpa jejak tanpa suara
Lenyap tertelan angin

Dalam bahtera itu
sang pangeran telah memiliki seorang ratu
Ino-gongju hanyalah selir baginya
kala ia menikmati keindahan lautan

Ino yang malang
Memilih menguap bersama cinta yang tak memilihnya
hilang di semesta
meninggkallkan jejak kata dalam kisah dongeng yang memilukan

Kini tinggallah senyap
sedang bahtera dan pangeran tetap berlayar.

(dikisahkan oleh Ursula)



Titik Dua Hati

Kala hujan membasahi semesta
Rintiknya luruh dalam diam
Jejak langkahmu pun hilang tertutup genangan lumpur
Langit kan perlahan beranjak meninggalkan mendung
Namun mengapa kudapati hatimu kian kelabu??
Tahukan hatimu hanya berupa pelabuhan tua?
Tempat dia bersinggah sejenak
Dari gerimis petang kemarin.

Renjana: Roti Melankolis

Ada begitu banyak rasa
banyak cara
banyak pula rupa.
Namun aku memilihnya.

Rabu, 27 November 2019

Badai Empat Purnama

Mata ini mulai terlihat bengkak.
sejak kemarin linangan air mata itu tak terbendung
jatuh meluruh menertawakan kerinduanku yang terabai
aku menekannya, menahan untuk jangan berani teteskan kesedihan hati
tapi aku tak mampu,
hatiku sakit parah,
Lelahpun,
tapi cinta ini menyita seluruh hatiku
lebih berkuasa.
Aku butuh kamu. 

Senin, 18 November 2019

Waktu

Kala..
Pembicaraan alot tentang
kapankah ia kan membayar utang temu denganku.
Setahun?
Dua tahun kah?
Mungkinkah lima tahun lamanya?
atau kemudian semua itu
hanya menjadi mimpi yang berkelakar?

Minggu, 13 Oktober 2019

Pelabuhan Kecil

Gelap kelabu bersembunyi di sudut hati
Semakin perih teriris keraguan

Pernahkah satu masa kau melihatku?
Bukan dari kepura-puraan..
Bukan pula rutinitas yang tak pantas..
Bukan pula kepalsuan yang tak berbekas
Namun karena kerinduan yang membukit..
Karena kecintaan yang melekat

Pernahkah kasih?

Aku di sini..
Termangu sendiri ditertawai sepi
Bungkam di bawah dawai malam menyandungkan purnama
Apakah aku menunggumu tanpa arti? Tanpa pasti?

Jangan beri aku ketidakpastian
Kau hanya akan menyaji duka yang tertunda
Jadikan aku bagian hatimu
Satu-satunya .. inginku dalam keegoisan
Sebab aku pernah gagal memilih sebelumnya..
Tertinggal sendiri di pelabuhan kecil
tempat gerimis begitu nyaman menangis...


Rabu, 25 September 2019

Senyap yang Asing

Hujan..
yang rinainya jatuh sejak semalam
menemani gundah dan raguku yang kian mencekik
Aku sesak nafas
Rasanya tanah yang ku pijak berusaha menelanku

Benarkah cinta?
Atau aku hanya menjadi jahat
Sesungguhnya tak pernah ada kesengajaan niat
akan merusak istana impian wanita lain
benarkah begitu?
coba jangan hanya beri aku tanya.

Kesyahduan yang kau idamkan padaku
Akankah benar adanya?
ataukah aku selama ini hanya tertarik masuk
dalam dongeng mistis yang semesta ciptakan
untuk menjadikan aku tumbuh kembali
tanpa hati..