Senin, 21 September 2020

Sayup-sayup Kegetiran

Ku saksikan sepasang anak manusia
Memadu kasih dalam cumbuan waktu
Sekejap kemudian terenggutlah tawa
Menyisakan hanya sekadar rindu

Ada yang lucu dari sepasang anak Adam
Mereka lahir dari cinta kasih yang membara
Memacu birahi asmara dalam bejana awam
Dan lihatlah kini candu dan menjadi gila

Aku mengatai betapa bodoh terpedaya
Tak ada janji yang akan selalu kering
Pasti jua nanti basah bernoda duka
Tangis dan air mata kan datang kian sering

Dy. September 2020.

Ini Patah yang Sengaja

Ku buka rentang kisah renjana
Engkau rupanya musafir bukan pujangga
Sakit ini terikat umpan sengaja
Membawa pulang tangis tanpa suara

Ketika aku lepas mengiris nadi
Bagimu itu hanya lelucon untuk dibercandai
Dalam gelak dan tangis geli
Lihatlah netraku mengabut menangisi

Dy. September. 2020

Jumat, 03 April 2020

Perempuan Patah Hati: Aku Yang Nyata

Aku tidaklah gila.
Yang kubutuhkan bukan dokter, namun seseorang yang menyayangiku.
yang akan merawat dan menjagaku dengan perhatiannya, kasihnya, sayangnya, cintanya, dan ketulusannya...
bukan melangkah pergi.

Ya Allah sang pendengar doa
di mana engkau letakkan jejak kakinya?
dia yang engkau pilih menjadi pemilik hatiku
di manakah ia di semesta raya ini?

Hadirkan ia dalam wujud nyata
agar ia bisa menyembuhkanku
merengkuhku, mengusap kepalaku, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dengannya

aku hanya ingin sembuh
dari penyakit bernama sepi
dari kehampaan dan putus asa
Aku lelah terus menangis
tak ada yang tahu kecuali dirimu
aku sudah sakit teramat parah

Dokter hanyalah kedok dan peralihan
obat hanya pereda nyeri sesaat
aku butuh dia yang memberi ketulusan

Impianku sebelum kematian menyapa seperti kawan lama adalah
aku ingin menjadi ibu yang hebat
mengetahui emosi anakku juga keluh kesahnya
apa yang ia telah alami, lalui, dan rasakan.
aku ingin menjadi pendengarnya yang bijak
mengasihinya
menyayanginya

Tuhan pemilik semesta raya
aku ingin melarikan diri
menetap pada sepetak bagian semestamu di mana hanya ada keasingan
aku ingin hidup nyaman dengan diriku dan seseorang yang kan menerima segala kurangku

selamanya..

akan kukatakan padanya..
"aku tak pernah keberatan apapun asal kita melakukannya bersama"

...
(dari catatan harian perempuan patah hati)

Kamis, 02 April 2020

The Tale of Ino-Gongju

Berdiri di geladak utama
wajah rupawan nan menawan
berpakaian gagah sang putra raja
berjalan selembut angin menuju haluan

Ino- gongju yang malang jatuh cinta
memohon pada Ursula
agar bisa menapak semesta
Walau harus diterpa derita

Bukankah sang Ursula sangat baik?
Dia hendak menyadarkan Ino-gongju
Tentang cinta hanyalah buaian semata
Seperti lagu pengantar tidur Poseidon

Dia, Ino tahu akhir kisah ini
Bahwa nantinya hanya kan menjadi buih lautan
Menghilang diudara tanpa jejak tanpa suara
Lenyap tertelan angin

Dalam bahtera itu
sang pangeran telah memiliki seorang ratu
Ino-gongju hanyalah selir baginya
kala ia menikmati keindahan lautan

Ino yang malang
Memilih menguap bersama cinta yang tak memilihnya
hilang di semesta
meninggkallkan jejak kata dalam kisah dongeng yang memilukan

Kini tinggallah senyap
sedang bahtera dan pangeran tetap berlayar.

(dikisahkan oleh Ursula)



Titik Dua Hati

Kala hujan membasahi semesta
Rintiknya luruh dalam diam
Jejak langkahmu pun hilang tertutup genangan lumpur
Langit kan perlahan beranjak meninggalkan mendung
Namun mengapa kudapati hatimu kian kelabu??
Tahukan hatimu hanya berupa pelabuhan tua?
Tempat dia bersinggah sejenak
Dari gerimis petang kemarin.

Renjana: Roti Melankolis

Ada begitu banyak rasa
banyak cara
banyak pula rupa.
Namun aku memilihnya.

Rabu, 27 November 2019

Badai Empat Purnama

Mata ini mulai terlihat bengkak.
sejak kemarin linangan air mata itu tak terbendung
jatuh meluruh menertawakan kerinduanku yang terabai
aku menekannya, menahan untuk jangan berani teteskan kesedihan hati
tapi aku tak mampu,
hatiku sakit parah,
Lelahpun,
tapi cinta ini menyita seluruh hatiku
lebih berkuasa.
Aku butuh kamu.